Manado-Dinas Kebudayaan Daerah Provinsi Sulawesi Utara menggelar Rona Budaya Sulawesi Utara dengan mengusung tema “Merayakan Warisan Budaya, Merawat Keberagaman, Menguatkan Identitas.”
Kegiatan tersebut digelar untuk memeriahkan Hari Ulang Tahun (HUT) ke-62 Provinsi Sulawesi Utara yang diperingati pada 23 September 2026.
Rangkaian Rona Budaya Sulawesi Utara akan dimulai pada Sabtu, 5 September 2026, dan berlangsung hingga puncak kegiatan pada Sabtu, 26 September 2026.
Seluruh kegiatan dipusatkan di Museum Negeri Sulawesi Utara, Jalan W.R Supratman, Kota Manado.
Pembukaan kegiatan dijadwalkan dilakukan oleh Gubernur Sulawesi Utara Mayjen TNI (Purn) Yulius Selvanus SE.
Kepala Dinas Kebudayaan Sulawesi Utara, Yorry Rommy Lesawengan, mengatakan Rona Budaya dirancang sebagai ruang bagi masyarakat untuk mengenal, menikmati sekaligus melestarikan kekayaan budaya yang dimiliki Sulawesi Utara.
“Melalui kegiatan ini, kami mengajak masyarakat Sulawesi Utara untuk ikut meramaikan dan menyaksikan berbagai pertunjukan budaya yang telah disiapkan. Yang pasti, masuknya gratis,” ujarnya.
Pembukaan Rona Budaya pada Sabtu, 5 September 2026, akan mengangkat tema Nusa Utara. Sejumlah pertunjukan seni dan budaya dijadwalkan tampil, mulai sore hingga malam hari.
Pertunjukan tersebut antara lain tarian Masamper, Tari Salo Kapita, seni sastra Sasambo, musik Lide, musik bambu Sangihe, pementasan teater hingga hiburan band lokal.
Selain pertunjukan seni, panitia juga menghadirkan talkshow mengenai budaya Nusa Utara serta workshop pembuatan Sagu Porno.
Rangkaian kegiatan berlanjut pada Senin, 7 September 2026, melalui Seminar Budaya Tulude. Museum juga akan menampilkan pameran foto karya fotografer yang mengangkat kehidupan dan budaya masyarakat Nusa Utara.
Sepanjang rangkaian acara, masyarakat juga dapat menikmati kehadiran tenant UMKM yang menjajakan berbagai produk di area Museum Negeri Sulawesi Utara.
Memasuki pekan kedua, Sabtu, 12 September 2026, Rona Budaya mengangkat tema Budaya Minahasa.
Sejumlah agenda yang disiapkan antara lain talkshow Potret Budaya Minahasa, workshop gerabah pulutan, musik bambu klarinet, Maengket, Mahambak, Tumatenden, Katrili, Makaruyen, musik kolintang serta penampilan Mawolai dari Minahasa Selatan.
Panggung hiburan kemudian ditutup dengan penampilan band lokal.
Pada Sabtu, 19 September 2026, giliran Rona Budaya Bolaang Mongondow Raya yang menjadi tema utama. Agenda kegiatan meliputi talkshow Potret Budaya Bolmong Raya serta workshop pembuatan inamol dan kukusa.
Pada malam pagelaran, masyarakat akan disuguhkan berbagai kesenian khas Mongondow, seperti Tari Danysa, Dana-Dana, Tari Tuitan, Kabela, Salamat atau pantun, musik etnik kolaborasi serta Giomu.
Pameran dan bazar UMKM juga menjadi bagian dari rangkaian kegiatan.
Berbeda dari pekan-pekan sebelumnya, Jumat, 25 September 2026, Rona Budaya mengangkat tema Nusantara dengan melibatkan komunitas diaspora dari berbagai daerah di Indonesia yang bermukim di Sulawesi Utara.
Kegiatan akan diisi talkshow mengenai perkembangan budaya Sulawesi Utara beserta berbagai tantangannya. Selain itu, terdapat kegiatan membatik serta pertunjukan seni budaya dari sejumlah komunitas diaspora.
Komunitas yang akan terlibat antara lain diaspora Jawa, Sunda, Bali, Toraja, Bugis-Makassar dan Gorontalo.
Puncak Rona Budaya Sulawesi Utara akan berlangsung Sabtu, 26 September 2026, sekaligus menjadi agenda penutupan.
Acara penutup akan dimeriahkan dengan pagelaran seni dan pertunjukan teater.
Pemerintah 15 kabupaten/kota di Sulawesi Utara juga turut mendukung kegiatan tersebut.
Dewan Kerajinan Nasional Daerah (Dekranasda) akan menghadirkan dan memamerkan berbagai produk UMKM dari kabupaten/kota serta Dekranasda Provinsi Sulawesi Utara.
Selama pelaksanaan Rona Budaya, UMKM akan membuka lapak di halaman museum mulai pukul 10.00 hingga malam hari. Khusus hari Minggu, tenant UMKM akan mulai beroperasi pada sore hari.
Hingga kini, tercatat 27 UMKM telah dipastikan ikut memeriahkan rangkaian acara sejak pembukaan hingga penutupan. Selain itu, lima band lokal dijadwalkan tampil secara bergantian setiap Sabtu.
Yorry mengatakan pelaksanaan Rona Budaya sekaligus menjadi bagian dari upaya memperkuat fungsi Museum Negeri Sulawesi Utara sebagai ruang edukasi, budaya dan pariwisata.
Sejak dibuka untuk umum pada 25 Mei 2026, museum tersebut telah mencatat hampir 16 ribu kunjungan dalam kurun waktu sekitar tiga bulan.
Para pengunjung berasal dari berbagai kalangan, mulai dari masyarakat lokal, pelajar dan mahasiswa hingga wisatawan mancanegara.
Untuk memperluas promosi, Dinas Kebudayaan Sulawesi Utara juga menggandeng pihak perhotelan serta para pemangku kepentingan sektor pariwisata agar turut memperkenalkan agenda Rona Budaya kepada wisatawan yang berkunjung ke Sulawesi Utara.
Masyarakat Sulawesi Utara maupun wisatawan yang ingin menyaksikan berbagai pertunjukan dalam Rona Budaya dipersilakan datang langsung ke Museum Negeri Sulawesi Utara.
Seluruh rangkaian kegiatan terbuka untuk masyarakat dan tidak dipungut biaya masuk. Museum juga tetap beroperasi sesuai jadwal kunjungan yang berlaku. (*JM)






