Harrold Sepang Tekankan Profesionalisme dan Empati, RSUD Maria Walanda Maramis Hadapi Persaingan Layanan

oleh -1052 Dilihat

Minut-Direktur RSUD Maria Walanda Maramis, dr. Harrold Sepang, MARS, AIFO-K, menegaskan bahwa kualitas pelayanan dan profesionalisme tenaga kesehatan menjadi faktor penting dalam meningkatkan kepercayaan masyarakat terhadap rumah sakit daerah di tengah persaingan layanan kesehatan yang semakin ketat.

Penegasan itu disampaikan Harrold dalam diskusi bersama Profesional Wartawan Minahasa Utara (Pro WM). Ia menilai, keberhasilan rumah sakit tidak cukup diukur dari kelengkapan fasilitas medis dan kemampuan tenaga dokter, tetapi juga dari kecepatan respons, komunikasi petugas, serta sikap empati terhadap pasien.

Menurut Harrold, rumah sakit harus menempatkan pasien sebagai pusat pelayanan. Sebab, keberlangsungan sebuah rumah sakit sangat bergantung pada kepercayaan masyarakat yang menggunakan layanan kesehatan tersebut.

“Tanpa pasien, rumah sakit mati. Mana ada rumah sakit yang bisa hidup tanpa pasien?” tegasnya.

Ia mengatakan, pasien yang datang ke rumah sakit berada dalam kondisi dan kebutuhan yang berbeda-beda. Sebagian mengalami kesakitan, membutuhkan bantuan mobilitas, atau datang bersama keluarga yang sedang menghadapi kecemasan.

Karena itu, tenaga kesehatan dituntut memberikan pelayanan yang profesional dan manusiawi, termasuk dalam situasi kerja yang penuh tekanan. Persoalan internal maupun kelelahan kerja, menurutnya, tidak boleh menjadi alasan untuk mengabaikan kebutuhan pasien.

Harrold menilai, pengalaman pasien selama menjalani pelayanan akan memengaruhi citra rumah sakit. Pelayanan yang baik berpotensi membangun kepercayaan dan mendorong masyarakat merekomendasikan rumah sakit kepada orang lain. Sebaliknya, pelayanan yang buruk dapat merusak reputasi institusi.

Selain pembenahan kualitas sumber daya manusia, Harrold menyoroti tantangan pengelolaan RSUD Maria Walanda Maramis di tengah persaingan dengan rumah sakit swasta.

Ia menegaskan, status sebagai fasilitas kesehatan milik pemerintah tidak dapat dijadikan satu-satunya keunggulan. Rumah sakit daerah harus mampu mengembangkan kualitas layanan, meningkatkan efisiensi pengelolaan, serta memaksimalkan fasilitas yang tersedia.

Sebagai rumah sakit berstatus Badan Layanan Umum Daerah (BLUD), RSUD Maria Walanda Maramis dituntut menjalankan fungsi sosial sekaligus mengelola institusi secara profesional dan berkelanjutan.

Menurut Harrold, persaingan tidak cukup dihadapi melalui promosi. Rumah sakit perlu memiliki keunggulan nyata yang dirasakan langsung oleh pasien, mulai dari kualitas pelayanan, kecepatan penanganan, hingga komunikasi yang baik antara petugas dan masyarakat.

Ia menyebut sejumlah layanan yang berpotensi dikembangkan, antara lain radiologi, perawatan intensif neonatal atau Neonatal Intensive Care Unit (NICU), rehabilitasi medik, serta poli penyakit dalam.

Potensi tersebut, katanya, perlu ditopang manajemen yang tepat agar fasilitas yang dimiliki dapat memberikan manfaat maksimal bagi masyarakat.

Dalam diskusi yang berlangsung interaktif itu, Harrold turut menjelaskan mekanisme penanganan pasien di instalasi gawat darurat (IGD), termasuk sistem triase yang kerap menimbulkan pertanyaan di tengah masyarakat.

Ia menerangkan, prioritas penanganan pasien IGD ditentukan berdasarkan tingkat kegawatan medis, bukan semata-mata urutan kedatangan. Pasien dengan gangguan jalan napas, pernapasan, atau sirkulasi yang mengancam nyawa dapat memperoleh prioritas lebih tinggi.

Penjelasan tersebut menjadi penting agar masyarakat memahami bahwa perbedaan waktu penanganan di IGD merupakan bagian dari prosedur medis untuk mendahulukan pasien dengan kondisi paling darurat.

Harrold juga menguraikan mekanisme klaim pembiayaan melalui BPJS Kesehatan. Pengajuan klaim, jelasnya, harus melalui proses verifikasi untuk memastikan kelengkapan administrasi dan kesesuaian pelayanan dengan ketentuan yang berlaku.

Sementara untuk kasus kecelakaan, mekanisme penjaminan dapat melibatkan BPJS Ketenagakerjaan atau Jasa Raharja, bergantung pada jenis kejadian dan ketentuan yang mengaturnya.

Ia berharap masyarakat memahami prosedur tersebut agar tidak terjadi kesalahpahaman dalam pengurusan pembiayaan maupun penerimaan layanan kesehatan.

Harrold juga mengajak insan pers menyampaikan informasi secara akurat dan proporsional, terutama ketika muncul keluhan atau perdebatan mengenai pelayanan rumah sakit di media sosial. Menurutnya, setiap informasi perlu diperiksa agar persoalan yang berkembang di masyarakat tidak diperkeruh oleh kabar yang keliru.

Pertemuan bersama Pro WM menjadi ruang dialog antara manajemen RSUD Maria Walanda Maramis dan wartawan untuk membahas berbagai persoalan pelayanan kesehatan, pengelolaan rumah sakit daerah, hingga mekanisme pembiayaan pasien.

Melalui komunikasi dua arah tersebut, wartawan memperoleh penjelasan langsung dari pihak rumah sakit mengenai sejumlah isu yang kerap menjadi perhatian masyarakat.

Dialog ini juga menjadi kesempatan untuk memperjelas persoalan pelayanan dari perspektif pengelola rumah sakit, sekaligus memperkuat pemahaman mengenai pentingnya penyampaian informasi yang utuh dan berimbang.

Pembenahan RSUD Maria Walanda Maramis, pada akhirnya, tidak hanya bergantung pada pengembangan fasilitas medis, tetapi juga pada perubahan budaya kerja, peningkatan kapasitas tenaga kesehatan, dan konsistensi dalam memberikan pelayanan.

Profesionalisme dan empati menjadi dua aspek yang perlu berjalan beriringan agar rumah sakit daerah mampu menjawab kebutuhan masyarakat sekaligus mempertahankan kepercayaan publik. (T3)

No More Posts Available.

No more pages to load.