Manado-Intensitas erupsi Gunung Karangetang di Pulau Siau, Sulawesi Utara (Sulut) masih menjadi momok yang tak kunjung usai.
Pasalnya potensi lahar Gunung Karangetang kerap melanda wilayah pemukiman masyarakat pada radius 2,5 kilometer dari kawah utama serta perluasan sektoral ke arah selatan dan tenggara sejauh 3,5 kilometer.
Sejak November 2018 sampai sekarang satelit thermal masih merekam 107 titik panas di gunung api tersebut. Akumulasi volume magma yang dikeluarkan mencapai 7 juta meter kubik.
Bahkan sejak tahun 2000 hingga saat ini, data anomali thermal mencatat ada 1.237 titik panas di Gunung Karangetang. Akumulasi volume magma yang dikeluarkan sebanyak 145 juta meter kubik atau sekitar 21.000 meter kubik per hari.
- Wali Kota Caroll Senduk Pimpin Apel Gelar Pasukan, Pastikan Kesiapan Pengamanan TIFF 2026
- Wali Kota Caroll Senduk dan Wakil Wali Kota Sendy Rumajar Audiensi dengan Kajati Sulut, Perkuat Dukungan untuk Sukseskan TIFF 2026
- Jelang HUT RI ke-81: Bentangkan Kabel Laut 1,95 KMS, PLN Nyalakan Listrik Perdana di Pulau Dudepo dan Tuntaskan 100 Persen Rasio Desa Berlistrik Provinsi Gorontalo
Berdasar periode pengamatan aktivitas gempa guguran Gunung Karangetang sejak 1-7 September 2023 oleh Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) Badan Geologi Kementerian ESDM telah mengalami penurunan. Akan tetapi erupsi efusif Gunung Karangetang hingga Selasa (12/9/2023) masih terus terjadi.
Berkaitan hal ini Gubernur Sulut Olly Dondokambey mengimbau kepada masyarakat sekitarnya untuk selalu waspada dan menghindar sewaktu-waktu terjadi erupsi yang dapat membahayakan nyawa.
“Gunung Siau ini sepanjang tahun selalu ada dan masyarakat sebagian besar sudah terbiasa dengan gejolak Gunung Karangetang. Kita mengimbau kepada masyarakat harus lebih waspada terhadap pergerakan Gunung Karangetang ini agar supaya terhindar dari hal-hal yang tidak kita inginkan”. Ujar Gubernur Olly. (*/J.Mo)






