Kekhawatiran kedua negara tersebut, kata Analis Sosial Politik Universitas Negeri Jakarta (UNJ), ini berdasarkan lambannya pemerintah untuk melakukan lockdown.
Apalagi, Presiden Joko Widodo malah lebih memiliki social distancing maupun physical distancing.
“Langkah Indonesia yang lamban ambil keputusan lockdown, memilih social distancing atau physical distancing telah menimbulkan ketidakpastian. Karena kebijakan itu tidak sepenuhnya memutus mata rantai penyebaran Covid-19,” jelas Ubedilah.
Tak hanya itu, kata dia, Amerika Serikat merupakan sebab negara besar yang memiliki kepentingan kepada Indonesia. Namun, dengan adanya peringatan tersebut menunjukkan kondisi di Indonesia sangat berbahaya.
- PLN Edukasi Keselamatan Kelistrikan Sejak Dini, Siswa TK Al-Irsyad Gorontalo Belajar Bahaya Listrik Lewat Cara Menyenangkan
- Audiensi Wamenkes RI, Bupati Delis Dorong Penguatan Layanan Kesehatan Morut
- HUT ke-62 Sulut, 69 Sertipikat Aset Pemprov Diserahkan, Pemerintah Perkuat Benteng Hukum Aset Daerah
“Sebagai negara besar, tentu Amerika Serikat punya kepentingan pada Indonesia, tetapi peringatan untuk warga negaranya agar pulang ke Amerika Serikat itu menunjukan betapa berbahayanya kondisi Indonesia saat ini,” terangnya.
Dengan demikian, Ubedilah tak bosan kembali mendesak Presiden Jokowi untuk segera melakukan lockdown agar meminimalisir penyebaran Covid-19 secara masif.
“Kini kuncinya ada pada Jokowi, korban Covid-19 terus berjatuhan. Silahkan ambil keputusan pahit tapi sebentar atau tetap seperti saat ini tetapi penderitaan akan berkepanjangan,” pungkasnya. (*)
