Minut– Masuknya komoditas kelapa dalam agenda internasional membuka peluang lebih besar bagi Minahasa Utara untuk memperkuat industri hilirisasi sekaligus meningkatkan nilai ekonomi yang diterima petani.
Momentum itu mengemuka dalam pelaksanaan World Coconut Day 2026 di Manado yang dihadiri delegasi dari 22 negara. Bupati Minahasa Utara, Joune Ganda, turut menghadiri kegiatan yang dibuka Menteri Koordinator Bidang Pangan RI, Zulkifli Hasan.
Joune mengatakan, kehadiran puluhan negara dalam forum tersebut menunjukkan bahwa kelapa tidak lagi sekadar komoditas pertanian daerah maupun nasional, tetapi telah menjadi bagian dari kepentingan ekonomi dan pangan dunia.
Menurut dia, kelapa memiliki manfaat luas, mulai dari mendukung ketahanan pangan hingga berpotensi dikembangkan menjadi berbagai produk turunan, termasuk sumber energi baru terbarukan.
“Pengembangan kelapa bukan hanya di Sulawesi Utara atau di Indonesia, tetapi juga di dunia. Kita tahu kelapa ini memiliki manfaat yang luar biasa, termasuk untuk mempertahankan dan meningkatkan ketahanan pangan,” kata Joune.
Ia menilai forum internasional tersebut menjadi kesempatan penting bagi Sulawesi Utara untuk memperkenalkan potensi kelapa sekaligus membuka ruang kerja sama dengan berbagai negara.
Joune mengapresiasi penyelenggaraan World Coconut Day 2026 di Sulawesi Utara yang mempertemukan delegasi dari 22 negara dan sejumlah pemangku kepentingan lainnya.
“Ini sangat luar biasa, khususnya buat Sulawesi Utara. Kami sangat mengapresiasi karena bisa menghadirkan 22 negara dan beberapa peserta lainnya untuk melaksanakan kegiatan ini di Sulawesi Utara,” ujarnya.
Bagi Minahasa Utara, momentum tersebut dinilai memiliki arti strategis karena daerah ini merupakan salah satu basis produksi kelapa di Sulawesi Utara.
Joune menyebut Minahasa Utara berada di posisi kedua sebagai daerah penghasil kelapa terbesar di Sulawesi Utara setelah Minahasa Selatan. Selain memiliki areal produksi, Minut juga telah memiliki sejumlah industri pengolahan kelapa.
“Bagi Kabupaten Minahasa Utara ini juga merupakan suatu angin segar. Kita memiliki beberapa pabrik hilirisasi kelapa dan kita juga merupakan produsen nomor dua setelah Minahasa Selatan di Sulawesi Utara,” ujarnya.
Menurut Joune, keberadaan industri hilir menjadi modal penting untuk mengubah pola pengelolaan komoditas kelapa. Petani tidak lagi hanya bergantung pada penjualan kelapa dalam bentuk bahan mentah, tetapi dapat memperoleh nilai ekonomi yang lebih besar melalui pengembangan produk turunannya.
Karena itu, ia melihat penguatan hilirisasi sebagai salah satu peluang yang harus dimanfaatkan Minahasa Utara seiring meningkatnya perhatian pemerintah dan pasar internasional terhadap komoditas kelapa.
Selain hilirisasi, pemerintah pusat mulai memberikan perhatian terhadap keberlanjutan produksi melalui program peremajaan tanaman kelapa dan pengembangan bibit unggul.
Joune mengatakan arah kebijakan tersebut menjadi kabar positif bagi daerah yang memiliki basis petani kelapa cukup besar, termasuk Minahasa Utara.
“Ini menjadi penyemangat juga bagi para petani kelapa kita, bahwa perhatian dunia dan perhatian pemerintah pusat terhadap komoditas kelapa ini sangat penting,” jelasnya.
Ia mengatakan pengembangan kelapa membutuhkan pendekatan yang terintegrasi. Tidak hanya meningkatkan produksi, tetapi juga memastikan kualitas tanaman, ketersediaan bibit unggul dan pengembangan produk turunan.
“Dalam penyampaian Menko Pangan tadi, kita bisa mendapatkan gambaran bahwa pemerintah pusat akan bekerja keras untuk bisa mengembangkan tanaman kelapa ini, termasuk bagaimana proses peremajaan, kualitas-kualitas unggulnya dan komoditas turunannya,” kata Joune.
Menurutnya, penguatan dari sektor hulu hingga hilir akan menentukan masa depan industri kelapa. Peremajaan tanaman dan peningkatan kualitas produksi harus berjalan beriringan dengan pembangunan industri pengolahan.
World Coconut Day 2026 di Manado pun diharapkan tidak berhenti sebagai forum pertemuan internasional. Joune berharap momentum tersebut menghasilkan kerja sama konkret dalam pengembangan teknologi, pembibitan, peremajaan tanaman, pengolahan hingga pemasaran produk kelapa.
Dengan posisi Minahasa Utara sebagai salah satu sentra produksi kelapa dan mulai tumbuhnya industri hilirisasi, peluang tersebut dinilai dapat memperpanjang mata rantai ekonomi sekaligus meningkatkan manfaat komoditas kelapa bagi masyarakat dan petani.(T3)





