Tomohon-Setiap musim Pilkada posisi pejabat daerah dan ASN selalu menjadi sorotan publik, tidak terkecuali yang terjadi di kota Tomohon, yang saat ini juga ikut melaksanakan pilkada.
Muncul pertanyaan soal netralitas baik pejabat ataupun ASN. Secara legal formal posisi ASN boleh ikut kampanye tapi tidak boleh menggunakan atribut dan menjadi tim kampanye salah satu paslon, itu sah sah saja.
Fenomena pilkada di kota Tomohon dari waktu ke waktu situasinya sama saja, seluruh ASN, Nakon,Linmas dan perangkat kelurahan,selalu terjebak dalam suasana mendukung salah satu paslon, dan mereka juga lebih dilema ketika yang akan ikut adalah incumbent.
Suasana kebatinan para ASN dan perangkat daerah lainnya disatu sisi mereka diminta harus netral. Namun dipihak lain manakalah yang akan maju adalah incumbent maka keberlanjutan pasti menjadi program utama.
Saat mengkampanyekan program keberlanjutan tentunya incumbent akan bicara keberhasilan-keberhasilan yang sudah dilaksankana dan akan terus melanjutkan program yang berguna bagi masyarakat. Oleh nya posisi perangkat daerah dan ASN menjadi dilema, karena kesuksesan seorang incumbent tidak lepas dari peran serta secara totalitas dari para pejabat dan ASN di daerah teraebut. Oleh nya pejabat dan ASN serta perangkat daerah lainnya termasuk Nakon, Linmas, perangkat kelurahan, merasakan bahwa keberhasilan Walikota adalah andil mereka, mereka sudah menjadi satu tubuh dengan Walikota.
Suasana itu sekarang yang ada di kota Tomohon, ketika Walikota Tomohon Caroll Senduk berhasil dalam periode kepemimpinan nya maka dalam kampanye periode kedua nya saat ini keberhasilan dari Caroll Senduk tidak terlepas dari peran serta para pejabat pemerintah dari tingkat kota sampai kelurahan dan lingkungan, serta semua sarana pendukung nya.
Ketika mereka yang merasakan kepemimpinan Caroll Senduk berhasil, tentunya mereka juga memiliki tanggung jawab moril untuk bisa melanjutkan, yang penting dalam mereka mengekspresikan kesuksesan Caroll Senduk sebagai Walikota Tomohon, itu tetap berpijak pada koridor aturan dan mekanisme yang ada.
Saat ini dari 3 pasang calon yang ada pasangan Caroll Senduk dan Sendy Rumajar, mendapatkan tekanan dari kubu MWCM dan WLMM. Kedua kubu ini dengan segala cara ingin mendegradasi keberhasilan dari Walikota Caroll Senduk dengan berbagai cara, bahkan membalikan fakta-fakta keberhasilan disebut kegagalan.
Itulah upaya dalam proses politik. Namun apa yang mereka lakukan menjadikan seluruh perangkat pemerintah kota Tomohon dari kota sampai kelurahan dan lingkungan tentunya tidak ikhlas dengan tuduhan itu, karena lawan poltik menyerang Caroll Senduk.
Para pihak yang menyerang tidak menyadari bahwa ketika Caroll Senduk diserang maka yang ikut kena serang adalah seluruh pejabat para ASN dan perangkat lainya.Oleh nya para pejabat, ASN, dan perangkat lainnya justru menyatu dan kompak melakukan pembelaan terhadap Caroll Senduk Walikota Tomohon incumbent.
Ini yang membuat kecintaan masyarakat Tomohon kepada pasangan Caroll-Sendy no urut 3 (TIGA) , semakin hari semakin meningkat. Banyak masyarakat yang datang bergabung memberi dukungan, dengan alasan bahwa mereka muak dengan tim kampanye Paslon lain yang tidak objektif membabi buta memutar balikan fakta.
“Torang orang Tomohon nda biasa dengan budaya fitnah dan putar bale, torang tabiasa kalo butul torang bilang butul,kalo salah torang bilang salah. Itu sebagian kecil tanta-tanta orang Tomohon pe komentar, kasian pak Caroll dorang so ja fitnah,mar dia cuma senyum kong bilang di jogetin aja.”Demikian hasil rangkuman pernyataan dari ibu Ola,Karli, Yolanda, yang secara spontanitas mendukung Caroll-Sendy.
Demikian rangkuman dari tim media pasangan Caroll-Sendy memberikan penjelasan sekaligus pendidikan politik ke masyarakat /publik. (TIM)















