Terima Award PWI Sulut, Wenny Lumentut : Wartawan Profesional Harus Paham KEJ

Tomohon– Iklim dingin disertai tiupan angin di Kota Tomohon, Sabtu (26/2), sekitar pukul 19:30 Wita, tidak menghalangi rombongan pengurus dan panitia PWI Sulawesi Utara (Sulut) ke rumah pribadi Wakil Wali Kota Tomohon Wenny Lumentut, SE. Kedatangan tim PWI Sulawesi Utara dengan mengikuti protokol kesehatan mendapat sambutan positif.

Wakil Walikota Tomohon, Wenny Lumentut, SE, yang akrab disapa bung WL mempersilahkan rombongan tim PWI Sulut masing-masing Ketua Drs Voucke Lontaan, Wakil Ketua Jimmy Endey dan Wakil Sekretaris Fanny Waworundeng duduk diruangan yang sudah dipersiapkan.

Kebetulan saja, pada saat itu Kepala Divisi Hukum Mabes Polri Irjen Drs Remigius Segid Tri Hardjanto, Msi, bersama Wakil Kepala Polres Tomohon Ferdinand Runtu, SH, dan beberapa pejabat di jajaran Pemkot Tomohon sedang bertamu.

Spontan Bung WL bertanya bagamana, apa ada? Ketua PWI Sulawesi Utara, Drs Voucke Lontaan menjelaskan maksud dan tujuan kedatangan, yakni PWI Sulut memberikan penghargaan sebagai tokoh peduli pers di Sulut.

‘’Penghargaan ini diberikan dalam rangkaian Hari Pers Nasional dan Hari Ulang Tahun PWI Sulut ke 76 tahun,’’ ujar Voucke.

Tanpa banyak berkomentar, Bung WL langsung berdiri beranjak dari tempat duduknya menerima penghargaan tersebut dari Ketua PWI Sulut, Drs Voucke Lontaan.

‘’Saya ucapkan terima kasih atas pengharaan dari PWI ini, semogga lebih memotivasi saya dalam melaksanakan tugas sehari-hari, saya sangat senang bersinergi dengan wartawan sebagai fungsi sosial kontrol pembanguan,’’ kata Wenny.

Salah satu indikator PWI Sulut menobatkan Wenny Lumentut sebagai tokoh peduli pers di daerah Sulut, yakni sebelum menjabat Wakil Walikota dan Pimpinan DPRD Sulut, sepak terjangnya sangat terbuka.

Dalam memberikan informasi kepada wartawan. Tidak mengenal waktu, selalu melayani wartawan dalam meminta informasi untuk diberikan.

Tidak saja itu, Wenny yang juga dikenal sebagai seorang pengusaha sukses di Sulut, begitu memahami mana berita yang mengandung kaidah jurnalistik dan kode etik jurnalistik. ‘’Saya sering berdiskusi dengan teman-teman wartawan bila ada waktu senggang.” Ujar Wenny.

Apakah itu materi tentang kode etik jurnalistik, ataupun tentang keberadaan wartawan itu sendiri. “Wartawan itu sabahat saya, seseorang membangun mencitraan perlu dibantu wartawan mempublikasi. Walaupun teman, saya juga senang dikritik, tapi tentunya kritikan itu harus konstruktif dan sesuai Kode Etik Jurnalistik (KEJ),’’tutur Wenny. (*)

Related posts