oleh

Sudah Bebaskah Bumi Nyiur Melambai dari Dispensasi Nikah?

Oleh: Urip Tri Wijayanti,Sri Sugiharti,dan Sanusi,Pusat Riset Kependudukan,Badan Riset dan Inovasi Nasional.

Sulut-Dispensasi nikah, istilah yang tak asing bagi pasangan muda yang ingin menikah namun belum memenuhi persyaratan usia. Di provinsi yang lekat dengan sebutan bumi nyiur melambai, Sulawesi Utara, praktik ini masih berlangsung dan bahkan semakin meningkat dari tahun ke tahun.

Berdasarkan data Pengadilan Agama Manado,tanggal 24 April 2023, sungguh mengungkapkan fakta mengejutkan! Sudah tercatat 200 pengajuan dispensasi nikah hingga bulan April, menandakan rata-rata ada 50 pasangan  memohon izin khusus setiap bulannya. Wah, situasinya semakin menarik untuk dibahas,Top of Form apakah kita sudah menyadari dampak dan implikasi dari dispensasi nikah ini?

Menikah pada usia dini bukan hal mudah. Dibalik momen bahagia itu, terdapat banyak risiko dan tantangan harus dihadapi pasangan muda. Ketiadaan kesiapan finansial dan emosional seringkali menjadi kendala utama. Bagaimana mereka yang masih bergantung pada orang tua harus berjuang menciptakan keluarga yang bahagia? Masih minimnya kematangan emosional juga dapat berujung pada pertengkaran dan ketidakbahagiaan dalam rumah tangga. Bukan hanya itu, dari sisi kesehatan, perempuan usia di bawah 20 tahun masih dalam masa pertumbuhan dan perkembangan yang rawan akan masalah kesehatan terkait kehamilan dan melahirkan.

Lalu, apa yang mendorong para calon pengantin mengajukan dispensasi nikah? Ada beberapa alasan, namun mayoritas karena sudah hamil di luar nikah. Keputusan menikahkan dipandang sebagai solusi bagi anak yang “kecelakaan” dan upaya menghindari stigma negatif dari lingkungan sosial. Tak hanya itu, berpacaran lama juga sering menjadi alasan pengajuan dispensasi.

Pasangan yang sering bertemu dan pulang larut malam membuat orang tua khawatir akan terjadi perzinaan, sehingga keputusan untuk menikahkan menjadi langkah untuk menghindari dosa. Sementara itu, tradisi perjodohan juga masih berperan dalam pengajuan dispensasi nikah. Perjodohan yang dilatarbelakangi faktor ekonomi dan pendidikan, menjadi salah satu pilihan untuk mengangkat kesejahteraan keluarga dan mempertahankan hubungan pertemanan yang sudah terjalin lama.

Namun, dalam menghadapi fenomena ini, diperlukan peran aktif dari berbagai pihak. Orang tua harus lebih aktif mengawasi anak-anaknya agar tidak terjerumus pada pergaulan bebas. Tokoh agama dan tokoh masyarakat juga dapat menjadi panutan dan memberikan edukasi tentang kesiapan berkeluarga bagi remaja. Pemerintah juga perlu berperan dengan lebih intens dalam memberikan program-program yang menyasar remaja. Edukasi tentang dampak pergaulan bebas, pernikahan dini, dan konsekuensi dari dispensasi nikah harus lebih ditingkatkan.

Terakhir dispensasi nikah adalah isu yang kompleks dan harus dihadapi dengan pemahaman mendalam. Semua pihak harus berkolaborasi dan berkomitmen untuk menciptakan lingkungan yang mendukung pertumbuhan dan kesejahteraan para generasi muda. Semoga bumi nyiur melambai akan bebas dari bayang-bayang dispensasi nikah yang merugikan masa depan generasi muda. (***)