Usia dan Pengalaman Jadi Anggota Dewan, Ternyata Bukan Jaminan Punya Etika Politik

Tomohon-Perjalanan kampanye Pilkada 2024 di kota Tomohon memasuki bulan ke dua, makin hangat dan menarik di ikuti.

Masing-masing Pasangan Calon (paslon) melakukan manuver-manuver politik baik secara langsung atupun lewat Tim Kampanye, relawan dan para pendukung, secara umum sah-sah saja.Masing-masing tentunya ingin membetuk opini utk menarik perhatian publik terutama masyarakat pendukung.

Langkah politik yang diambil berbagai cara dengan taktik dan strategi masing-masing.

Disini diuji tingkat kedewasan berpolitik dari masing masing, baik sebagai calon maupun tim kampanye dan relawan pendukung.

Narasi narasi dan tindakan tindakan kongkrit di lapangan itu menjadi ukuran kedewasaan cara berpolitik , disinilah kita bisa menilai sesorang memiliki karakter yang baik atau tidak bagi kandidat calon maupun tim kampanyenya.

Ungkapan-ungkapan baik lewat media mainstream maupun medsos kelihatan kualitas kepemimpinan dan ketokohan, apakah memiliki keteladanan atau menjadi panutan atau tidak. Ada calon pemimpin atau kandidat yang tidak bisa menahan narasi nya yang suka maki-maki dll, ini tidak baik untuk menjadi teladan bagi masyarakat Tomohon yang berbudaya dan beretika sebagai kota Religius dan Kota Pendidikan.

Ada juga pasangan calon yang tidak beretika baik sebagai pasangan calon maupun Tim yang melakukan provokasi dengan melakukan manuver-manuver politik, yang tidak fatsun politik tidak menjaga etika dan estetika politik, seperti yang di pertontonkan oleh Tim Kampanye salah satu pasangan calon.

Melakukan menuver mengintervensi partai-politik lain, dengan memprovokasi beberapa pengurus partai politik tersebut dengan narasi sesat, padahal sudah jelas masing-masing calon sudah memiliki garis partai masing-masing, baik tingkat provinsi maupun Kab/Kota. Semua harus punya etika Politik masing masing.

Hormati dan jaga lah harga diri politik sendiri, dan jagalah kewibawaan Ketua Umum Partai Politik masing-masing,jangan mengganggu rumah tangga orang lain (partai org lain).

Seperti contoh Partai Gerindra Kota Tomohon. Mereka sudah sangat dewasa, sudah tauu menempatkan secara Proporsional.

Walaupun relatif usia muda, Ketua DPC Partai Gerindra Kota Tomohon, Sendy Gladys Adolfina Rumajar. SE.MIKom, jauh hari sudah menerbitkan keputusan politik yang tegas dan terukur. Yakni semua jajaran Partai Gerindra Kota Tomohon harus memperjuangkan dan memilih YSK dan JVM sebagai calon Gubernur dan wakil Gubernur Sulut. Dan Caroll Senduk dan Sendy Rumajar untuk calon Walikota dan Wakil Walikota Kota Tomohon.

Dan ini sudah di pegang oleh, Pengurus, kader dan pendukung partai Gerindra Kota Tomohon.

Beberapa saat lalu, ada Tim Kampanye dari salah satu pasangan Calon, Piet Pungus, yang aktif menghubungi pengurus-pengurus Gerindra di tingkat kecamatan dan kelurahan, mengajak untuk berkhianat dengan memilih calon mereka.

“Wah ini pelajaran politik yang tidak bagus. Mereka baik calon maupun Tim Kampanye adalah orang-orang yang telah berpengalaman di politik, karena semua pernah jadi anggota/pimpinan dewan, pimpinan partai dll, usia juga sudah uzur. Ternyata semua itu bukan jaminan kalau mereka punya etika politik yang baik, mereka istilah Tomohon sementara mempraktekan aktifitas “Caparuni Politik”, tegas Pengurus teras Gerindra Evo Paat.

“Sangat disayangkan mereka bermain nya off side. Bahkan terindikasi melakukan jebakan Batman, adu domba.” lanjut Evo.

Evo mengingatkan bagi Kami Partai Gerindra, pilkada bukan segala gala nya, yang poin utama kami adalah menjaga harkat dan martabat Ketua Umum/Ketua Dewan Pembina kami Bapak Prabowo Subianto sekarang Presiden Indonesia.

Beliau tandatangan Calon Walikota dan Wakil Walikota Kota Tomohon, hanya Caroll Senduk dan Sendy Rumajar, coba cek di KPU sudah masuk dokumen negara itu.

“Jadi tolong jangan di rusak oleh kepentingan sesaat dengan memprovokasi kader-kader dan pendukung Gerindra untuk menghianati Presiden Prabowo. Kami mendapatkan laporan dari grassroot ada upaya itu yang di lakukan oleh dedengkot politik. Ternyata mereka tidak patut di contoh, pengalaman mereka tidak ada yang patut di tiru, Usia ternyata tidak menjadi jaminan, belajar lah ke yang muda-muda yang tau sopan santun dan berbudaya.” Tegas Evo Paat menjelaskan sikap politik yangg santun dan beretika. (*Bert)

Loading