Ternate, Malut – Ketua Forum Pers Independent Indonesia (FPII) Provinsi Maluku Utara, Junaedi Abdul Rasyid mendesak pihak Polres Kota Tidore Kepulauan (Tikep) untuk menahan Abang Ko, terduga pelaku pemukulan terhadap wartawan, Said Marsaoly.
Menurut Junaedi, tindakan pemukulan terhadap wartawan merupakan pembungkaman kemerdekaan pers di Maluku Utara. Oleh sebab itu, dia meminta kepada Kapolres Tikep untuk segera menahan dan memproses pelaku.
“Karena ini menyangkut dengan marwah dan harga diri seorang wartawan,” ujar Junaidi, Selasa (15/6/2021).
Sebagai bentuk integritas antara Polri dan Wartawan dalam bekerjasama dilapangan, hal ini harus didukung penuh oleh pihak Polri lebih khusus lagi Polres Tikep, dalam hal ini Kapolres harus segera bertindak dan menahan pelaku pemukulan wartawan Abang KO.
- PLN Edukasi Keselamatan Kelistrikan Sejak Dini, Siswa TK Al-Irsyad Gorontalo Belajar Bahaya Listrik Lewat Cara Menyenangkan
- Audiensi Wamenkes RI, Bupati Delis Dorong Penguatan Layanan Kesehatan Morut
- HUT ke-62 Sulut, 69 Sertipikat Aset Pemprov Diserahkan, Pemerintah Perkuat Benteng Hukum Aset Daerah
Kata Junaedi, kekerasan terhadap wartawan merupakan preseden buruk bagi sistem kemerdekaan pers dan membungkam hak demokrasi publik. Untuk itu FPII Malut menghimbau penegakan hukum Polres Tikep harus berjalan secara baik dan benar.
“Apa lagi ini soal tindakan pemukulan terhadap wartawan Said Marsaoly, sebab kekerasan tidak dibenarkan, mestinya pihak ataupun keluarga mengklarifikasi jika merasa dirugikan,” tegasnya.
Sebagai Organisasi Pers,dan garda terdepan pembela insan Pers FPII mengutuk keras aksi pemukulan yang menimpa Said Marsaoly wartawan BIN Pers. Junaidi yakin bahwa, pemberitaan soal penyulundupan minuman keras (miras) dengan tersangka oknum anggota DPRD Tikep, yang juga diduga menjadi pemicu aksi pemukulan itu sudah sesuai kaidah jurnalistik.
“Saya meyakini bahwa Said (wartawan) telah menjalankan kaidah jurnalistik yang benar,” tutupnya. (Johnny)
Sumber : FPII Malut
