Tomata – Anggota DPD RI Dapil Sulawesi Tengah (Sulteng), Febriyanthi Hongkiriwang, Ssi Apt., bertindak sebagai inspektur upacara pada pemakaman mantan Sekretaris Kecamatan (Sekcam) Mori Atas, Almarhum Yoktan Ipchan Ento SKM, di Desa Pambarea, Kecamatan Mori Atas, Rabu (15/07/2026).
Upacara pemakaman berlangsung khidmat dan dihadiri keluarga besar almarhum, tokoh masyarakat, aparatur pemerintah, serta warga yang datang memberikan penghormatan terakhir kepada sosok yang dikenal sebagai abdi negara dan pelayan gereja yang berdedikasi.
Dalam sambutannya, Febriyanthi Hongkiriwang, menyampaikan rasa duka yang mendalam. Ia mengungkapkan bahwa keluarga Hehi – Hongkiriwang memiliki kedekatan emosional dengan almarhum sejak suaminya, Dr dr Delis Julkarson Hehi MARS., masih bertugas sebagai dokter di Puskesmas Tomata.
” Kami kehilangan seorang sahabat dan saudara yang begitu baik. Keluarga kami mengenal beliau sebagai pribadi yang rendah hati, penuh perhatian, dan selalu mengabdikan dirinya bagi masyarakat. Saat Bapak Bupati Delis masih bertugas sebagai dokter di Puskesmas Tomata, hubungan persaudaraan itu terjalin sangat erat. Kiranya seluruh keluarga yang ditinggalkan diberi kekuatan dan penghiburan oleh Tuhan, serta keteladanan hidup almarhum menjadi warisan yang terus dikenang,” ujar Feby sapaan akrabnya.
- DPRD Bitung Perpanjang Masa Kerja Pansus Ranperda Penyertaan Modal Di Perumda Air
- Sambut Siswa Baru, SDN Babakansari Gelar MPLS Unik Dengan Semangat Literasi Finansial dan Kearifan Lokal
- Pertama Kali Dipresentasikan di KADIN Pusat, TIFF 2026 Bikin Pengurus Nasional Terpukau: Tomohon Siap Jadi Magnet Investasi
Berdasarkan riwayat hidup yang dibacakan dalam prosesi pemakaman, Yoktan Ipchan Ento lahir pada 12 September 1967 dan mengabdikan sebagian besar hidupnya, sebagai Aparatur Sipil Negara (ASN) hingga menjabat Sekcam Mori Atas, sebelum memasuki masa pensiun. Ia juga aktif melayani di lingkungan Gereja GKST Bukit Zaitun Tomata, antara lain sebagai bendahara jemaat, majelis jemaat selama dua periode, panitia anggaran jemaat, ketua kelompok pelayanan, serta Badan Pemeriksa Perbendaharaan Klasis Mori Atas.
Almarhum meninggalkan seorang istri, dua orang anak, dua menantu, serta dua cucu.
Dalam beberapa tahun terakhir, almarhum berjuang melawan penyakit jantung, dan gangguan ginjal kronis. Setelah menjalani perawatan intensif dan dirujuk ke RSUD Anuntaloko Parigi untuk persiapan hemodialisis, almarhum mengembuskan napas terakhir pada Selasa, 14 Juli 2026.
Prosesi pemakaman ditutup dengan penghormatan terakhir serta doa bersama. Suasana haru menyelimuti pemakaman ketika keluarga, kerabat, dan masyarakat mengantarkan almarhum ke tempat peristirahatan terakhir, mengenang jasa dan pengabdiannya bagi pemerintahan maupun pelayanan gereja.(*)






