Reshuffle Bertujuan Memperkokoh Soliditas Kabinet Serta Memperkuat Kinerja Kementerian

Jokowi umumkan menteri baru. (Foto : Istimewa)

REDAKSI SULUT – Setidaknya ada dua kalimat keramat yang selama ini dijadikan amunisi Presiden Jokowi dalam melakukan pembenahan perbaikan sekaligus pergantian kabinetnya, yang pertama adalah;

1. “Bisa bekerja lebih cepat, dan bisa bekerja lebih efektif”. (Juli 2016)
2. “Kerja, Kerja dan Kerja”. Agustus 2019).

Itulah dua buah kalimat yang selain disebut “Keramat”, bisa juga disebut “Mantra”Jokowi untuk melakukan Perubahan ditubuh kabinetnya.

Pertanyaannya, mengapa Jokowi harus melakukan bongkar pasang kabinet? Pasti akan banyak jawaban dan spekulasi untuk pertanyaan tersebut. Tapi jika harus bermain dalam ranah spekulasi, memang ada beberapa hal yang secara logis menuntut Jokowi untuk segera melakukan reshuffle, karena ingin merealisasikan apa yang menjadi harapan dan keibginan rakyat Indonesia. Disisi lain reshuffle dilakukan antara lain, yaitu;

1.      Mengakomodasi perubahan peta politik.

2.      Membersihkan menteri kontra-produktif

3.      Memperkuat soliditas kabinet

4.      Meningkatkan kinerja pos kementerian.

Harus kita sadari bahwa atsmosfer politik yang ada pada Jokowi saat ini adalah karena beliau adalah seorang lone ranger (penjaga garis). Jokowi bukan kader parpol, dan tidak ada ada darah politik yang mengalir dalam tubuhnya, meski di awal masa pemerintahannya sempat diragukan, dalam perjalanan waktu, Jokowi mampu menjaga jarak untuk tidak bertindak sebagai ‘petugas partai’ secara total.

Reshuffle kali ini, Jokowi tidak menyentuh menteri-menteri yang berasal dari Partai Politik khususnya Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP), Parpol yang menyokongnya sebagai presiden dalam Pilpres 2014 dan Polres 2019.

Membersihkan Menteri Kontra-Produktif

Terpentalnya dr. Terawan dari Menteri Kesehatan bukan karena ketidak mampuan beliau memimpin kementerian yang akhir-akhir ini menjadi sorotan dan tulang punggung sekitar 270 juta rakyat Indonesia yang diteror oleh virus yang menakutkan ini.

Pergantian kepemimpinan kelembagaan dilakukan oleh Jokowi lebih untuk ditekankan pada kinerja dan memperkuat soliditas kabinet serta untuk meningkatkan kinerja pos kementerian masing-masing.

Mungkin saja dr. Terawan terkena imbas dari banyaknya permasalahan yang terjadi akibat dari sekian banyaknya keluhan masyarakat tentang cara pelayanan dan penanganan kasus covid’19 yang tidak profesional, padahal Jokowi sudah menyiapkan anggaran extra penanggulangan covid’19 ini. Begitu juga yang dialami Menteri Pariwisata Wisnutama yang mungkin saja ada pemilaian khusus dari Jokowi.

Jadi intinya adalah reshuffle dilakukan oleh Presiden Joko Widodo, bukan karena perubahan peta politik dan konsumsi koalisi, tapi lebih dikarenakan pada:
~ Membersihkan menteri yang kontra produktif
~ Meningkatkan soliditas kementerian
~ Meningkatkan kinerja pos kementerian.

Memperkuat Soliditas Kabinet

Tidaklah salah kalau Jokowi mempercayakan kepada mantan Walikota Surabaya yang selama 2 periode membangun kota Surabaya menjadi semakin lebih cantik dimata dunia. Risma selain memiliki menejemen pemerintahan yang apik dan profesional, Risma memiliki sikap yang jujur, bersih dan berwibawa.

Masuknya Sandiaga Uno di jajaran Kabinet Jokowi, sangat diharapkan nuansa dan iklim kepariwisataan Indonesia kedepan akan semakin lebih hidup dan eksis.

Bung Sandi dengan segudang pengalaman memimpin beberapa organisasi dan pemimpin beberapa perusahaan yang beliau miliki, sepertinya tak akan membuat kepala Jokowi lebih nambah puyeng.

Jadi… bukan karena kebetulan, Jokowi melakukan reshuffle asal menunjuk dan mengakat menterinya, tapi lebih dilandasi pada tingkat profesionalisme berdasarkan track-record yang dimiliki mereka. (***)

Sumber : Ventje Jacob / Pengamat Sosial Kemasyarakatan

Related posts