Belajar dari Pengalaman ”The Straits Times”

Redaksi Sulut – Seperti digaungkan Thaddeus Delane, peran pers adalah menangkap fenomena yang terjadi di tengah masyarakat secara cepat dan benar untuk kemudian dipublikasikan agar menjadi informasi bersama.

Sejak John Thaddeus Delane (1817-1879) memperkenalkan jurnalistik, dia katakan, tugas pers yang pertama adalah mendapatkan pengetahuan yang lebih cepat dan lebih benar tentang kejadian-kejadian yang ada dan langsung mengungkapkannya agar menjadi hak milik bersama.

Jurnalisme hadir untuk menjadi pembawa pesan, menjadi messenger, agar masyarakat bisa mengetahui dengan benar duduk perkara dari sebuah persoalan dan kemudian mengambil sikap terbaik untuk diri mereka.

Pendiri Kompas, Jakob Oetama, dalam berbagai kesempatan selalu mengatakan, tujuan utama membangun media bukanlah untuk mencari keuntungan. Keuntungan itu hanyalah akibat dari kemampuan pelaku media menyampaikan informasi yang mempunyai nilai pengetahuan dan kredibel.

Bahkan, keuntungan dari pengelolaan media tersebut bukan ditujukan untuk memperkaya para pemilik media, melainkan untuk semakin meningkatkan kualitas profesionalisme para wartawan.

Berbeda dengan industri manufaktur, industri media harus dibangun atas dasar visi yang jelas. Peran media yang paling utama haruslah bisa mencerdaskan dan mencerahkan masyarakat. Agar visi yang digariskan bisa dijalankan, maka haruslah ditopang oleh profesionalisme para pengelola.

Hanya dengan itu akan didapatkan informasi yang bisa dipercaya, kredibel, dan pada akhirnya bisa memberikan pengaruh yang positif pada kehidupan masyarakat. Hanya media yang mampu melakukan semua itu yang kemudian bisa mengembangkan bisnisnya.

Di Indonesia, idealisme itu bisa berkembang karena pendiri media di Indonesia berlatar belakang intelektual, guru, atau wartawan. Tirto Adhi Soerjo yang pertama kali menerbitkan surat kabar Medan Prijayi merupakan mahasiswa sekolah kedokteran. Setelah kemerdekaan, tokoh-tokoh pers, seperti BM Diah, Mochtar Lubis, Rosihan Anwar, PK Ojong, Jakob Oetama, dan Dahlan Iskan, merupakan orang yang berlatar guru dan kemudian menjadi wartawan.

Bahwa kemudian surat kabar, seperti Kompas, menjadi konglomerasi, hal itu bukan tujuan yang dicita-citakan. Jakob Oetama sering mengatakan, diversifikasi usaha terpaksa dilakukan karena ketidakpastian dari eksistensi surat kabar.

Tindakan pemerintah yang bisa tiap saat menutup penerbitan surat kabar membuat pemilik media terpaksa menyiapkan ”sekoci” untuk menampung para wartawan apabila terjadi penghentian izin terbit surat kabar.

Karena itu, Jakob Oetama tidak pernah mau menyebut dirinya pengusaha. Ia selalu mengatakan, dirinya adalah seorang wartawan. Kalaupun menjadi pengusaha, ia lebih merasa sebagai quasi entrepreneur, entrepreneur semu.

Berubah

Media berubah menjadi industri yang berorientasi pada profit setelah pengusaha masuk ke industri media. Orang-orang seperti Nirwan Dermawan Bakrie, Bambang Trihatmodjo, Chairul Tanjung, dan Hary Tanoesoedibjo bukan orang yang berlatar belakang wartawan. Mereka adalah murni pengusaha, yang melihat media sebagai peluang bisnis. Apalagi, eranya sedang berubah, yakni era teknologi informasi.

Fenomena ini tidak hanya terjadi di Indonesia. Dunia dihadapkan pada perubahan besar ketika pengusaha asal Australia, Rupert Murdoch, masuk ke media. Ia mengambil alih kepemilikan semua media di banyak belahan dunia. Murdoch mengambil alih kepemilikan The Wall Street Journal dan The New York Post di Amerika Serikat. Di Inggris, ia membeli The Sun dan The Times.

Masuknya pengusaha seperti Murdoch ke dalam media yang seharusnya mengutamakan idealisme bukan tanpa penentangan. Redaksi The Wall Street Journal sempat meminta agar independensi di ruang redaksi tidak diintervensi. Tajuk Rencana ketika Murdoch masuk menuliskan tentang kebesaran The Wall Street Journal dan janji mereka untuk tetap bersikap obyektif.

Namun, setelah berjalannya waktu, pemilik berbicara lain. Sebagai chief executive officer, ia bisa memutuskan apa pun yang ia maui. Pilihan kepada wartawan yang mengutamakan idealisme dipersilakan untuk mencari tempat yang baru.

Industri media pun mengalami perubahan. Mereka lupa akan cita-cita mulia dari munculnya jurnalisme. Profit jadi tujuan utama. Peran mencerdaskan dan mencerahkan jauh ditinggalkan. Sekarang yang dikejar rating and share. Tidak peduli kontennya memberikan manfaat apa tidak kepada masyarakat, yang penting heboh.

Apalagi sekarang ketika eranya klikbait. Judul dibuat bombastis agar menarik perhatian dan menjadi trending topic di tengah masyarakat. Kekhawatiran bahwa media akan menerapkan prinsip publish and be damned, ”publikasikan dan masa bodoh”, menjadi kenyataan.

Padahal, wartawan selalu diajarkan untuk berpikir sebelum menulis. Wartawan selalu dihadapkan pada kondisi ”in fear and trembling in anguish” karena takut tulisannya membuat masyarakat salah arah.
Sekarang semua benar-benar masa bodoh, bahkan kalau menimbulkan kehebohan di tengah masyarakat, itu justru dianggap berhasil.

Amerika yang dianggap kiblat decent journalism ikut terbawa arus. Murdoch berhasil membuat Fox sebagai stasiun televisi sayap kanan yang mengagungkan nasionalisme. Mereka tak peduli ketika masyarakat Amerika harus terbelah dan tak ada keterpanggilan untuk ikut merajut kembali.

Covid-19

Euforia untuk berlomba-lomba membuat sensasi secara perlahan menggerus kepercayaan publik. Wartawan senior, seperti Bill Kovach dan Tom Rosenstiel, pada awal 2000 pernah mengajak wartawan Amerika untuk melakukan refleksi dan berkaca tentang apa yang salah dari jurnalisme. Hasilnya dituangkan dalam buku yang berjudul The Elements of Journalism.

Semua itu tidak membuat para pemilik media sadar dan mau berubah. Mereka asyik dengan prinsip jurnalisme yang memberikan banyak keuntungan. Idealisme pers dianggap usang dan tidak perlu dipedulikan lagi. Bahkan, orientasi media untuk menerapkan prinsip publish and be damned semakin menjadi-jadi.

Ketika kepercayaan publik semakin menurun, mereka melihatnya hanya sebagai sebuah disrupsi. Seakan-akan kehadiran media daring menjadi penyebab utama menurunnya pendapatan dan kemudian keuntungan. Lupa bahwa industri media adalah bisnis kepercayaan dan, seperti dikatakan Bill Kovach, kepercayaan publik itulah yang sedang tergerus.

Publik tidak lagi mempunyai pegangan tentang informasi yang berkualitas ketika media arus utama pun tidak bisa memberikan itu. Fake news semakin menjadi-jadi dan masyarakat sulit untuk mendapatkan rujukan yang benar.

Pandemi Covid-19 semakin memberikan pukulan kepada media arus utama. Kesulitan yang dihadapi banyak perusahaan membuat mereka mengurangi budget iklan. Akibatnya, penerimaan iklan menurun secara drastis, terutama pada 2020 ketika pandemi Covid-19 membuat semua kegiatan ekonomi nyaris terhenti.

Semua media di seluruh dunia dihadapkan pada kondisi yang sulit sekarang ini. Pengurangan karyawan menjadi pilihan yang tidak bisa dihindari. Banyak wartawan hebat terpaksa mengambil pensiun dini. Padahal, wartawan tidak pernah mengenal pensiun. Seperti halnya tentara, journalist never die, they just fade away.

The Straits Times Singapura merupakan salah satu media yang menjunjung tinggi idealisme. Mereka pun tidak bisa mengelak dari kenyataan bahwa bisnis mereka terpukul karena pandemi Covid-19.

Tahun lalu, tiras mereka masih tumbuh sekitar 5 persen. Namun, keuangan mereka mengalami kerugian sekitar 83 juta dollar Singapura. Padahal, setahun sebelumnya masih membukukan keuntungan lebih dari 200 juta dollar Singapura.

Sebagai surat kabar yang telah hadir sekitar 176 tahun lalu dan menjadi simbol eksistensi Singapura, tidaklah mungkin The Straits Times dibiarkan mati. Seperti dikatakan Presiden AS Thomas Jefferson, lebih baik ada pers tanpa pemerintahan daripada ada pemerintahan tanpa pers. Singapura tidak mungkin bisa meyakinkan masyarakat dunia apabila tidak memiliki media yang kredibel.

Karena itu, Singapore Press Holdings (SPH) sebagai pemilik The Straits Times memilih untuk melakukan transformasi. Mereka tidak lagi menjadi perusahaan yang berorientasi pada bisnis, tetapi berubah menjadi lembaga nonprofit.

Model bisnis mereka berubah menjadi company limited by guarantee (CLG), di mana mereka membuka dukungan dari pemerintah dan masyarakat untuk bisa menjalankan prinsip jurnalisme yang profesional, menyajikan informasi yang berkualitas, dan bisa dipercaya oleh masyarakat.

SPH mengikuti jejak media-media di Eropa, seperti The Guardians di Inggris yang kembali ke khitahnya. Mereka menjalankan prinsip jurnalisme seperti yang awalnya digaungkan Thaddeus Delane, di mana peran pers adalah menangkap fenomena yang terjadi di tengah masyarakat secara cepat dan benar untuk kemudian dipublikasikan agar menjadi informasi bersama. (Suryopratomo, Duta Besar RI untuk Singapura)

Related posts